Senin, 10 Juli 2017

Y O U A R E W H A T Y O U R E A D

Bumi Bulan Matahari Bintang, dan ...

“aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil, sesuatu yang menakjubkan. Namaku Raib, dan aku bisa menghilang”

Ini adalah cuplikan monolog perkenalan Raib, salah satu tokoh utama dalam buku pertama dari serial “BUMI” nya Tere Liye. Novel seri yang bergenre science fiction sekaligus fantasi ini mengisahkan tentang kehidupan di dunia yang diceritakan tidak sesederhana apa yang kita pikirkan. Pernah dengar tentang dunia paralel? Dunia yang kita tinggali ini terdiri dari empat klan yakni klan Bumi, klan Bulan, klan Matahari, serta klan Bintang. Semua kehidupan di keempat klan berjalan serempak tanpa saling bersinggungan. Macam komputer yang membuka empat atau lebih program. Kita tetap bisa menjalankannya bersamaan, membuka internet, mengetik di Ms. Word, menyetel musik, serta mengedit foto sekaligus. Serial Bumi ini meceritakan petualangan seru Raib, Seli dan Ali pergi ke keempat klan tersebut. Baca sendiri dan kalian akan ikut larut dalam petualangan menegangkan, seru, menakjubkan, serta penuh dengan pesan moral yang layak untuk dijadikan pelajaran hidup.

Aku mengoleksi serial ini sejak tahun 2014, itu adalah tahun dimana  Bumi yang merupakan buku pertama dari serial “Bumi” itu terbit, Bulan, Matahari serta Bintang terbit tiga tahun berturut-turut setelahnya.  Dan kejutannya adalah setelah Bintang habis terbaca akan ada buku selanjutnya yang belum dipastikan kapan waktu terbitnya.

Tere Liye adalah salah satu penulis favoritku. Kenapa? Karena melalui tulisan-tulisannya ia mengajarkanku sebagai pembacanya untuk percaya bahwa hal baik akan selalu menyertai kita yang berbuat baik, seperti didalam dongeng-dongeng. Cinderella misalnya, karena keberanian, kebaikan, serta kesabarannyalah pada akhirnya ia hidup bahagia dengan pangeran. Aku tipe yang seperti itu, tipe yang percaya happy ending dalam sebuah kehidupan itu ada selama kita selalu berusaha berbuat baik, tak peduli banyak orang yang sudah mulai skeptis memandang kebaikan, ada yang berkelakar bahwa hidup tak seindah tulisan Tere Liye, mereka bilang bahwa hidup itu keras. Berbuat curang, membalas dendam, membenci, mereka menganggap hal itu alamiah, bahwa wajar jika manusia normal melakukan hal seperti itu. Orang-orang yang berpandangan seperti itu kurasa adalah orag yang kurang banyak membaca buku. 

Tak hanya buku Tere Liye yang ku rekomendasikan, ada banyak buku lain yang dapat mengajari kita tentang kebijaksanaan dalam hidup, tentang pentingnya berbuat baik dalam hidup. Nomer satu yang paling aku rekomendasikan bagi yang muslim tentu adalah Al Qur’an, saya termasuk yang masih jarang membaca terjemahannya (jangan tanya tafsir, saya amat sangat awam dan itu menyedihkan), tapi setahu saya sebagian besar isi Al Qur’an adalah kisah-kisah, dalam surrah Al Kahfi misalnya, ini adalah surrah yang berisi tiga kisah sekaligus, pertama tentang para penghuni gua yang dikisahkan seperti memasuki lorong waktu, kemudian kisah nabi Musa yang ingin berguru kepada Nabi Khidir, serta kisah yang paling membuatku penasaran, kisah kaum Ya’juj dan Ma’juj yang dikurung disebuah tembok oleh nabi Dzulkarnain.



Cerita sedikit

 Kapan aku mulai gemar membaca?

Ketika SD, tak ada perpustakaan, buku pertama itu berada didalam sebuah lemari kaca ruang guru, sampul hijau dengan gambar seekor ikan, judulnya “Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi” buku yang mengajariku untuk tidak membantah nasihat orangtua, untuk mencintai saudara kita, serta tidak mementingkan diri sendiri. Dari satu buku itu aku jadi sangat gemar membaca, dan tak terhitung lagi berapa buku yang pernah kubaca.

Membaca membuatku berimajinasi, seringnya menjadi pemeran utama dalam buku yang kubaca, rasanya menyenangkan, bayangkan, seolah kau memiliki film yang hanya kau sendiri yang dapat melihatnya, karena film itu hanya berputar dikepalamu saja. Hal ini tak hanya berlaku ketika aku membaca serial fiksi. Semenjak kelas 3 SD aku sudah tertarik dengan pelajaran sejarah, aku ingat pada pelajaran sejarah kelas 3 SD banyak dibahas mengenai perjanjian-perjanjian antara Indonesia dan para penjajah yang berusaha menguasai Indonesia kembali pasca deklarasi kemerdekaan, aku juga berimajinasi mengenai berbagai perjanjian tersebut, Konferensi Meja Bundar yang menggunakan  meja bundar dikelilingi banyak orang, perjanjian Renville yang diadakan di geladak kapal perang, perjanjian Linggar jati dan lain-lain. Berlanjut hingga SMA pun aku lebih banyak lagi membaca buku yang berbau sejarah, politik, biografi tokoh-tokoh penting, hingga buku apa saja yang sekiranya membuatku tertarik.

Sungguh membaca memberikan banyak pemahaman yang baik, banyak kebijaksanaan hidup yang kau petik dari sebuah buku. Pernah dengar ungkapan “you are what you eat”? bahwa apa yang kamu makan itu menentukan kesehatanmu, sama halnya dengan buku, “you are what you read” bahwa apa yang kamu bacapun akan mempengaruhi bagaimana sikapmu.

Ngomong-ngomong

Soal membaca buku, ada fakta mencengangkan tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, yaitu :
1.   Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.
2.   Riset berbeda bertajuk "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Menurut saya hal paling mendasar yang menyebabkan minimnya minat baca masyarakat Indonesia adalah tidak adanya budaya membaca yang digalakkan sejak dini terutama dilingkungan keluarga, belakangan orangtua justru lebih banyak memberikan anak tontonan dari televisi. Kurangnya buku bacaan yang berkualitas terutama di daerah-daerah yang masih terpencil, serta pengaruh besar smartphone yang telah menggantikan banyak sisi kehidupan manusia juga berperan sangat sentral dalam hal ini.

Pentingnya membaca buku saya rasa perlu untuk disosialisasikan kepada masyarakat, buku berbeda dengan artikel yang dibaca diinternet, untuk membuat sebuah buku (yang bukan fiksi) dibutuhkan sangat banyak sekali buku lain sebagai acuan, serta penelitian bertahun-tahun. Berbeda dengan artikel yang kita baca diinternet, ada banyak yang memang berbobot, namun ada banyak pula yang penulisannya dilakukan tanpa dasar dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga bisa saja justru menyesatkan.


Ayo budayakan membaca buku, karena kata bang Tere Liye membaca jika tidak bermanfaat sekarang, suatu saat pasti akan bermanfaat, dan hal itu pernah saya rasakan.



Senin, 13 Februari 2017

M A S A - M A S A

            Akan selalu ada kisah menarik serta kenangan yang takkan terlupa dalam tiap fase kehidupan manusia. Aku juga merasakannya.



S E K O L A H  D A S A R



Masa-masa yang tanpa beban, dimana setiap hari yang kulakukan hanya 'sekolah, main, ngaji'. Setiap hari seperti itu dan hanya itu. Ketidakhadiran ibu bapak seolah tak berarti apapun, nenek saja rasanya cukup kala itu. Kesukaaanku membaca tumbuh dari masa ini, ada satu buku yang masih kuingat hingga kini, buku yang kupinjam dari sebuah lemari kaca diruang guru, sampul hijau dengan gambar seekor ikan dengan judul “Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi”. Dimasa ini pula pertama kalinya aku memiliki seekor kucing, namanya belang, karena terlalu sering dipanggil cayang, akhirnya namanya ku ganti cayang. Kucing jantan yang gemuk dan lucu. Ketika akhirnya keluargaku memutuskan untuk pindah ke Jakarta, saat itu pula kebersamaanku dengannya berakhir.





S E K O L A H  M E N E N G A H  P E R T A M A



            Masa-masa SMP adalah masa dimana aku yang baru pindah dari kampung mulai sedikit mengenal pinggiran Jakarta, dari SMP aku mengenal banyak orang, teman, bahkan sahabat yang sampai sekarang masih saling sapa, main bersama, serta bertukar pikiran tentang hidup bersama pula.



S E K O L A H  M E N E N G A H  A T A S



            Masa-masa SMA, masa penuh cita-cita dan harapan tentang masa depan, membuat berbagai rencana untuk menyambut masa dewasa. Bolak-balik perpustakaan sekolah untuk meminjam banyak buku yang kebanyakan justru novel, kumpulan puisi atau prosa dan biografi tokoh-tokoh, rasa-rasanya aku sangat jarang meminjam buku yang ada hubungannya dengan pelajaran. Pernah sekali menghilangkan, dan ketika hendak mengganti uang ternyata ada adik kelas yang menemukan. Masa dimana hampir setiap pelajaran fisika aku dipanggil kedepan untuk mengerjakan dan seingatku tak pernah satu kalipun aku sukses menjawabnya.



K E R J A


            Masa-masa Kerja, masa dimana aku belajar tentang susahnya mencari uang, menangis karena diomeli atasan, merasakan bahagianya ketika pertama kali memegang uang hasil keringatku sendiri, masa dimana aku menyadari bahwa dunia orang dewasa tak ubahnya seperti dunia anak-anak. Bertengkar, saling membicarakan satu sama lain, aah. Bahkan dunia anak-anak jauh lebih baik dengan kejujuran dan kepolosannya dibanding dunia orang dewasa yang penuh dengan kepura-puraan. Meski begitu tempat ini pula yang membuatku sedikit demi sedikit menjadi dewasa, dengan memahami bahwa setiap orang berbeda, setiap orang memiliki kepribadian yang unik, memahami bahwa idealismeku tidak bisa terus menerus aku pertahankan, realitas yang ada sulit untuk dilawan, jadi terkadang aku harus mengalah. Disini pula aku belajar untuk saling menguatkan satu sama lain, belajar bahwa keluarga bisa terbentuk meski tanpa adanya hubungan darah sekalipun, kebersamaan yang setiap hari ada sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita sebuah keluarga.



K U L I A H



            Masa-masa Kuliah, ini masa yang sedang kunikmati sekarang. Masa dimana aku bertemu dengan mereka, teman-teman sekelasku yang sangat menyenangkan. Mereka mengenalkanku pada banyak hal, terutama tentang arti persahabatan, tentang bagaimana caranya menikmati kuliah sehingga yang menjadi fokusku tidak hanya pada nilai saja. Mereka adalah orang-orang gila yang jika sudah melakukan pertunjukkan gilanya maka aku akan kesulitan untuk berhenti tertawa. Mereka sangat setia kawan, jika ada satu yang mengalami kesulitan maka tangan yang lain akan dengan ringan terulur. Meski mereka gila, tapi ada kalanya diskusi dengan mereka juga terasa menyenangkan, selalu diselingi canda namun tetap ada pelajaran yang membekas, contoh ketika diskusi psikologi sosial, aku sungguh ingin mengulanginya, atau ketika diskusi di sayap kanan lobby kampus, itu pertama kalinya aku mulai mendekat dan akhirnya sekarang bergabung dengan mereka.



            Aku yang jarang pergi kemana-kemana, dengan menggebu mengajak mereka ke monas. Ya, monas. Monas yang sangat ikonik itu saja belum pernah aku datangi. Dengan sangat baik hati mereka menemaniku kesana, bersepuluh kita naik kereta, mereka bilang bahwa hari itu adalah “Anifah Day”. Aku tak pernah tidak tersenyum ketika kembali membuka album foto yang kuberi nama “Trip to Monas”. Makan es cream di stasiun, naik mobil tingkat gratis, sholat di Istiqlal, antri naik ke atas monas, pulang terlalu malam sampai parkiran motor tutup, balik lagi ke stasiun ditengah perjalanan pulang karena ada teman yang terlupa (maaf yas, ren), dan akhirnya makan nasi uduk sebelum benar-benar pulang.



            Yang baru-baru ini kami lakukan bersama adalah mengadakan acara gathering kelas, touring menggunakan motor ke Bogor, acara yang sangat menyenangkan. Itu sungguh pertama kalinya aku pergi jauh menggunakan motor, hujan dalam perjalanan berangkat sama sekali tidak membuat ingin pulang. Kalian tahu? Ternyata mereka, pria-pria dikelasku jago memasak, dari acara ini aku mulai menyadari bahwa mereka adalah pria-pria baik meski ketika bercanda kadang membuat dahiku berkerut, atau mungkin aku saja yang terlalu kaku? Entahlah. Yang pasti mereka tipe yang bertanggung jawab dan tidak akan tega membuat anak perempuan kesusahaan. Satu yang selalu aku semogakan, semoga mereka bukan pecinta sesama jenis.
Perjalanan pulang juga tak kalah menyenangkan, meski rasanya aku sangat ngantuk, penyebabnya? Kurasa angin. Kalian tahu apa obat ngantuk paling mujarab selain makan? Menyanyi, aku menyanyikan semua sountrack lagu kartun sewaktu aku masih anak-anak sepanjang perjalanan pulang, tak absen lagu lain pula, tapi yang paling enak untuk dinyanyikan menurutku cuma satu, sountrack kartun chibi marukochan. “hal yang menyenangkan hati banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi, sekarang ganti baju gar menarik hati ayo kita mencari temaaaaan ...”




            Selain jalan-jalan yang pada dasarnya hanya untuk bersenang-senang anak-anak kelasku juga secara rutin mengadakan acara bakti sosial tiap semesternya, acara pertama aku hanya ikut melakukan penggalangan dana, acara kedua aku benar-benar terjun langsung, dan kalian tahu bagaimana rasanya? Sangat-sangat menyenangkan, mulai dari rapat dengan ketua yang galak tapi tegas, mempersiapkan barang-barang yang akan kita sumbangkan, hingga dihari H kita bertemu serta berbagi dengan anak-anak yang membutuhkan itu. Melakukan acara bakti sosial ini rasanya seperti  melakukan pengabdian masyarakat yang nyata, the real mahasiswa menurutku ya yang begini, yang melakukan tindakan nyata untuk lingkungan sekitar, bukan hanya fokus untuk mengejar nilai yang pada akhirnya tidak akan memberikan pelajaran tentang hidup yang nyata padamu.




            Yang sayang untuk tidak diceritakan adalah acara ketika kita ke pasar malam setelah acara bakti sosial. Lagi-lagi itu pertama kalinya aku ke pasar malam, naik kora-koraan sama Rere, naik itu entah aku harus menyebutnya apa, sepedakah? Tapi rodanya banyak, odong-odongkah? Pokoknya itu deh yang ada di foto. Melambaikan tangan pada orang-orang yang tidak dikenal, aku benar-benar kehilangan rasa malu waktu itu, tapi aku tidak malu. Teriak-teriakan karena yang mengayuh entah kenapa kurang profesional, atau jangan-jangan benar kata abang-abang yang menyewakan benda itu bahwa akunya saja yang terlalu gendut? Tidak mungkin, itu pasti karena pengayuh sepedanya yang sedikit payah. Sampai dirumah aku baru makan, laparku karena belum makan seketika hilang berganti canda dan tawa bersama mereka.

            Masa-masa menyenangkan ini pasti akan berlalu dan berganti dengan masa-masa yang lain dimasa depan, namun kenangan tentangnya sungguh akan menetap dihati. Banyaknya foto kebersamaan kita yang tersimpan rapi kurasa cukup menjadi pengingat akan hari-hari yang sudah kita lewati bersama. Bukankah hanya ada satu tempat dimana waktu berhenti dan kenanganpun akan kembali berputar? Pada sebuah foto.

            
Aku sungguh bersyukur kepada Allah karena dipertemukan dengan kalian, terimakasih sudah menjadi teman-teman Anifah.

Selasa, 24 Januari 2017

Cerpen Pertama

Ini tentang hujan yang membawa sembilu rindu, cerpen melepaskan tanpa pernah memiliki. Terimakasihku untuk Allah, telah menurunkan hujan yang menginspirasiku belajar menulis.
Selamat menikmati cerpen galau tapi lucu pertama yang kuterbitkan disini

            Disudut kamar, dari jendela kaca persegi dengan cat merah disetiap sisinya, hanya dengan temaram cahaya dari luar jendela itulah Lail termenung memandang hujan yang mulai turun. Terlihat olehnya sepasang merpati yang bertengger diatap sebuah spanduk bergegas terbang menerabas rintik yang mulai menderas, “semoga sarang mereka tidak jauh” batinnya.
            Ada begitu banyak orang yang menyukai hujan, begitupun Lail. Ia bergegas mengambil buku hariannya beserta pulpen dilaci. Dan Lail pun mulai menulis


24 Maret
     Hujan mengingatkanku padamu, meski tak ada satupun kenangan dirimu yang berkaitan dengan hujan namun tetesnya yang jatuh seakan bagai denting suaramu yang aku rindu.
     Aku selalu sadar bahwa kecantikan fisik bukanlah segalanya, bahwa yang terpenting adalah cantiknya hati, tapi tetap saja bersama dengan mereka yang cantik secara fisik membuatku tak percaya diri untuk berdekatan denganmu. Aku takut, takut perhatianmu yang biasa akan hilang berganti sibukmu untuk mendekati mereka. Jika nyata seperti itu kau tak patut ada di hatiku, itu adalah filter. Namun tetap saja aku merasa tidak siap, aku takut sakit hati, sama seperti takut pahitnya pare karenanya seumur hidup aku tak pernah sekalipun mencoba memakannya. Tapi kau bukan makanan yang bisa aku abaikan karena masih banyak makanan lain yang rasanya lebih enak, kau hanya satu, tak terganti.
     Jatuh cintaku sungguh menyiksa, aku tak bisa berhenti berusaha menunjukkannya padamu meski aku takut setengah mati kau akan tahu. Aku terus saja memimpikanmu, memimpikan saat-saat bersamamu. Ini sungguh menyiksa, aku ingin perasaan ini enyah saja. Kukira dengan tak melihatmu sama sekali akan membuat perasaanku membaik, ternyata aku salah. Perasaanku justru memburuk, jadi makin tak menentu, intensitas memimpikanmu meningkat, dan lamunan berikut senyum ketika mengingat perlakuan manismu semakin menjadi-jadi.
     Aku harus bagaimana? Aku sungguh benci karena mencintaimu, kau seharusnya tak pantas. Tapi bagaimana? Kau dipilih oleh hatiku, bukan aku yang memilihmu, bahkan setelah aku tahu kau menyukai atau bahkan mencintai wanita lain sekalipun
     Aku .. sungguh jatuh cinta sendirian bukan?! Tanpa kau merasakan hal yang sama, tanpa kau tahu.
     Aku sungguh tak paham, mengapa rasanya seperti ini, terkadang tersenyum mengingatmu bersamaan dengan tangis karena menyadari aku tersenyum sendiri, aku bahagia sendiri mengingatnya tanpa kamu merasakan hal yang sama.
     Aku ingin melupakanmu saja, tak ingin sakit sendirian karena jatuh cinta sendirian. Tapi semakin berusaha melupakan aku justru akan semakin mengingatmu. Karenanya aku akan memeluknya erat, menerimanya dengan lapang dada, meski saat ini, besok, besok, besok dan besoknya lagi masih akan tetap sakit tapi aku percaya suatu saat perasaanku akan membaik dan jadi tidak apa-apa. Peluk eratku atas perasaan ini adalah bentuk melepasku tanpa pernah memilikimu.


            Itu adalah kalimat perpisahan Lail pada cinta sepihaknya, ia memutuskan untuk menyerah, menerima bahwa ia jatuh cinta sendirian lalu setelahnya ia merencanakan untuk bangkit sendirian pula. Tapi jika kalian membaca langsung diary Lail maka kalian akan tertawa, karena tertulis banyak kalimat perpisahan disana

Tanggal 8 Januari
Melupakanmu
Tanggal 2 februari
Aku akan mengakhirinya sendiri
Tanggal 12 februari
Ini akan jadi terakhir kalinya
Tanggal 23 maret
Aku akan melupakanmu saja
           
            Jadi jangan anggap serius kalimat perpisahan panjang lebar dan mengharukan Lail tadi, karena bisa jadi besok ia akan menuliskan hal yang serupa, tak persis sama namun dengan maksud perpisahan, lagi.





Minggu, 22 Januari 2017

Tentang Menjalani Hidup

Andai bisa memilih hidup yang ingin dijalani, maka aku ingin jalan hidupku tetap seperti ini. Tak satupun yang ingin kubuang, entah itu pengalaman tersakit sekalipun. Karena untuk sampai disini jalan yang kutempuh begitu berliku, ratusan kenangan yang masih tersimpan rapi serta tak terhitung lagi banyaknya kenangan yang mungkin sudah kulupakan. Maka bayangkan betapa tidak kerennya aku jika aku bukan aku yang punya ratusan bahkan tak terhitung kenangan yang dilupakan itu.

Jika ada orang-orang yang benci dengan takdir hidupnya saat ini, sekuat tenaga hendak lari, serta sekeras mungkin berusaha melupakan masa lalu maka aku sebaliknya. Aku mencintai takdir hidupku, Sekuat tenaga aku berusaha menghadapi segala yang terjadi, entah itu hal manis yang membuatku tersenyum simpul atau bahkan hal menyakitkan yang membuat dadaku sesak. Aku juga tidak berusaha untuk melupakan kenangan pahit, karena penulis favoritku mengatakan ‘semakin kau berusaha melupakan, maka kenangan itu justru akan semakin kau ingat’ yang benar menurutku adalah menerimanya. Menerima dengan lapang dada segala kenangan yang menusuk, hingga suatu hari aku tak lagi merasa sakit ketika mengingatnya.

Jika ada yang mengatakan aku kekanak-kanakan maka jawabanku adalah apa salahnya berpikiran seperti anak-anak? Anak-anak selalu bersikap apa adanya, ketidaksukaan mereka katakan dengan gamblang, bukannya justru berpura-pura baik didepan orang yang mereka tidak suka, jika marah mereka akan melampiaskan, bukan memendamnya lalu menjadikannya dendam, jikapun berkelahi besok lusa mereka akan kembali baikan, bukan justru menjadi konflik yang berkepanjangan.

Orang dewasa selalu mengedepankan kerealistikkan, sesuatu yang masuk akal bagi mereka adalah bahwa dunia nyata tak seindah negeri dongeng. Tapi aku selalu ingin memandang dunia ini layaknya anak-anak, bahwa akan ada pahlawan seperti ranger pink yang datang menyelamatkan bumi ketika situasi menjadi kacau, bahwa akan ada cinta sejati yang menghampiri meski kau adalah seorang gadis miskin sekalipun. Aku selalu ingin memandang dunia sebagaimana yang bisa diwujudkan. Percaya bahwa hal-hal baik entah dari mana jalannya akan terjadi selama kita melakukan kebaikan, serta selalulah miliki keberanian.



Pernah nonton Cinderella? Pesan terakhir ibu Cinderella : "have courage and be kind, it has a power more than you know"











Minggu, 04 Desember 2016

M A N T R A

Hari ini aku mengalami hari yang bukan hanya kurang tapi sungguh sebenarnya tidak mengenakkan, tak perlu kuceritakan karena jujur saja itu aib, jika terpaksa untuk bercerita maka kurasa bukan disini tempatnya .. hehehehe

Aku memiliki sebuah kebiasaan yang mungkin juga dilakukan oleh orang lain, namun karena aku belum pernah bertemu satupun orang (secara langsung) yang melakukan hal yang sama maka aku menganggap bahwa ini adalah ritual khusus milikku sendiri.

Setelah selesai makan bakso dan yang tersisa tinggal rasa pedas maka aku akan langsung minum es jeruk, begitulah analogi yang bisa kita gunakan untuk menggambarkan kebiasaanku yang satu ini.

Ini rahasia ...

Ssssssssssstttttt ...

Aku memiliki ....


M A N T R A




Aku memiliki banyak mantra ajaib yang meski tidak menghilangkan namun dapat memperingan segala beban, entah itu cemas, sedih, takut, sakit, bahkan marah sekalipun

Ya, mantra. Tidak hanya sebuah namun ada banyak mantra untuk digunakan dalam berbagai situasi. Kalian ingin tahu mantra apa saja yang pernah kuucap? Yang baru saja aku bagikan di media sosial misalnya, itu sebuah mantra yang berbunyi “ it’s ok, no problem Anifah, just little bit forget that sometimes people who bring a plate not mean they want to eat”. Aku tak akan menjelaskan mengapa aku menulis itu jadi jangan ada yang menanyakannya !

Fokuslah pada kalimat awal “it’s oke, no problem Anifah”. Mengapa aku mengucapkan mantra seperti itu? Itu adalah sebuah mantra pembela diri, aku membela diriku sendiri dengan berkata bahwa semuanya baik-baik saja, itu bukan masalah, jika aku tidak menyakinkan diriku sendiri bahwa hal buruk yang baru saja aku alami itu bukanlah hal yang perlu aku risaukan maka sudah barang tentu aku akan galau seharian, berpikir kesana kemari, menyalahkan dri sendiri, atau bahkan menyalahkan orang lain.

Kalimat kedua “just little bit forget that sometimes people who bring  a plate not mean they want to eat” ini adalah penjelasan rasional yang kubuat untuk membela orang yang telah tanpa sadar membuatku merasa tertekan. Jika aku tidak melakukannya maka aku pasti akan sangat marah pada orang tersebut, lalu membencinya entah sampai kapan.

Jadi mantraku adalah sebuah kalimat yang aku ucapkan ketika perasaanku memburuk, entah itu memburuk karena diriku sendiri atau mungkin memburuk karena perantara orang lain. Mantraku juga terkadang kuucap ketika aku kehilangan semangat, membutuhkan motivasi, serta membutuhkan kalimat yang sesungguhnya ingin kudengar dari seseorang namun kemudian aku ucapkan sendiri kepada diriku sendiri dengan selalu menyertakan namaku untuk disebut (karena membahagiakan rasanya ketika mendengar namaku disebut)

 “ayo semangat, belajar yang rajin anifaaaaah” seperti itu misalnya. Atau ketika terbangun tengah malam lalu terdengar suara aneh maka aku pasti akan berkata “itu pasti cuma kucing anifaaaah”, atau ketika nilai UTS ku jelek maka aku akan berkata “ it’s ok anifah, namanya juga belajar, ya wajar, berikutnya harus lebih keras lagi belajarnya”, atau ketika aku kesal karena partner kerjaku tak bisa diandalkan “sabar anifaaaaah (sambil ngelus dada), percaya semua bakalan ‘kena’ pada waktunya”, atau ketika hari senin tiba “ tenang anifaaaaah, sehari itu nggak lama ko, masuk kerja jam 7 istirahat jam 10 sholat jam 13 pulang jam 15 kuliah jam 17 mata kuliah kedua jam 19 pulang jam 21, itu cepet anifaaaah, bukan seribu tahun ko”, atau ketika aku membenci seseorang maka aku akan berkkata “dia pasti punya alasan melakukannya, dan jika kau tahu alasannya kau akan memakluminya”, atau ketika aku merasa ingin membalas dendam “jangan anifaaaaah, kamu tahu kan gimana sakitnya, kamu tega orang lain ngerasain hal yang sama?”. Dan masih ada banyak lagi, 

Satu lagi, mantra terdahsyat adalah ketika kau menyertakan Allah didalamnya. Maka mantramu menjelmalah menjadi doa kala itu kamu lakukan.

Intinya mantraku adalah kalimat-kalimat yang kuucapkan supaya aku tetap berpikiran positif, tetap tegar dan tidak sedih berlebihan, tetap tersenyum dan tidak terlalu lama murung.

Jadi ada yang ingin ikut membuat mantra? Atau sudah punya satu untuk meringankan bebanmu hari ini? Apa mantramu?


Jumat, 02 Desember 2016

Kejahatan, Penyebabnya ?

Mengapa didunia ini ada begitu banyak kejahatan?

Jika dipandang dari perspektif psikologis khususnya menurut kacamata para Adlerian maka jawabannya adalah bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki inferioritas (kelemahan) yang menyebabkan munculnya daya juang untuk mencapai superioritas (keunggulan yang ingin dicapai). Berbagai bentuk superioritas yang ingin dicapai oleh seseorang dibentuk oleh adanya fiksi, yakni gambaran subjektif kita tentang sesuatu.

Contohnya gambaran subjektif si A tentang ‘Ibu’, A memiliki fiksi bahwa seorang ibu adalah ia yang memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk anak-anak supaya kelak dimasa depan mereka bisa bermanfaat untuk orang lain. Fiksi si A ini akan mengarahkan daya juang yang ia lakukan, bahkan mengarahkan perilaku si A dalam kehidupan sehari-hari. Karena fiksi si A tersebut maka si A berjuang untuk menjadi seorang wanita yang cerdas supaya ia dapat mendidik anak-anaknya dengan baik kelak dimasa depan, caranya dengan belajar sungguh-sungguh ketika kuliah dan tak lupa membekali diri dengan ilmu agama yang kelak harus diajarkan sebagai pondasi dasar kehidupan, serta berbagai hal positif lain sehingga dengan demikian si A berharap bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu kelak.

Sampai disini kita tahu bahwa fiksi kita tentang sesuatu itu penting, sangat penting. Ambil contoh ketika kita memiliki fiksi yang keliru mengenai ‘Ibu’, bahwa seorang ibu artinya adalah perempuan yang sehari-hari kerjanya hanya di dapur sumur kasur sehingga tidak perlu berpendidikan, tidak perlu memiliki banyak ilmu. Ini membahayakan,  bagaimana bisa bangsa ini akan memiliki generasi penerus yang cemerlang jika pendidik utamanya saja tidak berpendidikan? Tidak memiliki bekal pengetahuan agama bahkan yang dasar untuk ditanamkan pada diri anak-anak mereka?

Jadi fiksi adalah pandangan subjektif kita tentang sesuatu yang mengarahkan sikap dan perilaku kita akan sesuatu tersebut.


Kembali ke pertanyaan awal, mengapa didunia ini ada begitu banyak kejahatan? Jika dikaitkan dengan teori Adler maka menurut saya jawabannya adalah karena banyak dari manusia yang melakukan kejahatan itu memiliki fiksi yang keliru.


Sabtu, 05 September 2015

Sedikit Tentang Psikologi Forensik





Sabtu, 05 September 2015
Kuliah Umum
Forensik Dalam Tatanan Teori dan Praktek Keprofesian Psikologi
Oleh
Dr. Reza Indragiri Amriel, ForPsych.


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia terhadap lingkungan sekitar, sedangkan forensik ( saya ambil dari wikipedia bahasa indonesia )adalah ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakkan keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains.
Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa Psikologi Forensik adalah Psikologi Hukum.

Tidak hanya Psikologi Forensik, ada pula Akuntan Forensik, Kedokteran Gigi Forensik, Kimia Forensik, Psikiatri Forensik, Komputer Forensik dan lain-lain.

Ketika kita mempelajari Psikologi Forensik maka mau tidak mau kita harus mempelajari Hukum baik melalui bimbingan maupun belajar sendiri. Hukum bersifat teratur, taat azas, serta berdisiplin. Sedangkan Psikologi bersifat fleksibel. Itulah sebabnya akan sangat menyenangkan mempelajari Psikologi Forensik yang menggabungkan dua disiplin Ilmu yang dapat dikatakan bertolak belakang namun dalam proses penerapan hukum sangat dibutuhkan.

Ambil contoh ketika seseorang melakukan tindak pembunuhan maka keadaan Psikologi seseorang sangat menentukan jenis hukuman yang akan diberikan kepada terdakwa, disinilah seorang saksi ahli dalam hal ini seorang Psikolog Forensik memiliki peran penting.

Jika berbicara mengenai sebuah kasus tindak pidana maka yang menjadi subjek dari Psikologi Forensik adalah Pelaku, Korban, dan Penegak Hukum. Padahal dalam kenyataannya adapula kasus perdata yang memerlukan  Psikologi Forensik, misalnya dalam kasus hak asuh anak.

Contoh  :


Kasus Emon, Sukabumi. Pedofilia.



...Kata salah satu anak

“Emon maunya 20 ribu. Saya nggak mau. Terus dijanjiin 50 ribu. Jadi. Tapi baru bayar 30 ribu ...”

Korban ?

Ada transaksi dalam kasus ini, dan si anak mengetahui apa yang akan di lakukan Emon kepada dirinya setelah adanya kesepakatan, tidak ada unsur paksaan sama sekali. Jika demikian apakah si anak dapat dikatakan sebagai korban?

Dalam Undang-Undang  No 23 Tahun 2002 Pasal 81 tentang Perlindungan Anak  dinyatakan bahwa :

‘Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan , memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dengan denda paling bnyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000,00 (Enam puluh juta rupiah).’


Maka berdasarkan undang-undang diatas, si anak tetaplah korban.


...Kata Emon
“ Maunya teh dengan perempuan, tapi .......”

Pedofil?

Ketika ditanya mengapa Emon tertarik secara seksual kepada anak kecil dan bukannya kepada perempuan, Emon pun mengataka bahwa sebenarnya ia juga tertarik kepada perempuan hanya saja karena tidak ada perempuan yang mau dengan dirinya.
Jika demikian apakah Emon dapat disebut sebagai seorang Pedofil?


Pedofilia dibagi menjadi 2 jenis


1.  Pedofilia Predisposisional : Jenis pedofilia yang eksklusif, pengidap pedofilia jenis ini hanya memiliki ketertarikan seksual kepada anak-anak.

2.  Pedofilia Posisional : Pedofilia jenis ini adalah pedofilia yang terjadi karena keadaan.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Emon adalah seorang Pedofil meskipun ia masih memiliki ketertarikan kepada perempuan.



...Kata salah satu orangtua

“Anak saya tidak punya keluhan”

Kapan tanda-tanda muncul?


Jika seorang anak mengalami kekerasan seksual  maka akan muncul gejala-gejala traumatis, misalnya si anak menjadi takut ketika masuk ke kamar mandi, sering berteriak-teriak ketika tidur atau tidak mau menggunakan celana. Gejala-gejala seperti ini bisa langsung muncul setelah kejadian kekerasan tersebut terjadi, namun bisa juga gejala-gejala seperti ini akan muncul bertahun-tahun kemudian.


Inilah yang dinamakan Delay on set atau Kemunculan gejala yang tertunda.

Karena itu dalam kasus ini meskipun si korban saat ini tidak mengalami keluhan apapun ada kemungkinan di masa yang akan datang gejala ini baru akan timbul.


...Kata Masyarakat

“Pelaku harus dikebiri !”


Efektifkah ?

Tentu saja ini bukan pendapat dari seluruh masyarakat, ada pula yang berpendapat bahwa tindakan kebiri melanggar Hak Asasi Manusia. Namun jika dikatakan bahwa hal ini melanggar hak asasi manusia mari kita pikirkan kembali ! Adakah hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia?

Ambil contoh seorang murid yang dihukum untuk berdiri di depan kelas oleh gurunya karena terlambat. Anak tersebut memiliki hak untuk duduk , memiliki hak untuk mengikuti pelajaran, memiliki hak untuk tidak dipermalukan, namun karena hukuman ketiga haknya tersebut terampas.

Jadi adakah hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia? Tidak ada.

Pun jika ada yang menyatakan bahwa hukuman mati melanggar hak asasi manusia, maka itu adalah ungkapan yang utopis, karena pada kenyataannnya di dunia ini tidak ada hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia.

Lalu hukuman seperti apa yang seharusnya diberikan kepada pelaku Pedofil?
Hukuman yang membuat jera pelakunya, hukuman yang juga dapat melindungi korban maupun calon korban.

Sejak tahun 60-an ada sekelompok orang yang merasa fokus sebuah kasus hanya pada pelaku bukan pada korban, padahal yang paling dirugikan dan paling membutuhkan perhatian khusus bukan hanya pelaku melainkan si korban pun demikian. Karena itu muncullah Victimologi yakni ilmu yang mempelajari tentang korban.

Victimologi berusaha membentuk hukum yang tidak hanya membuat jera pelaku namun juga memberikan perlindungan kepada korban dan calon korban.

Contoh cara yang dapat dilakukan misalnya setelah seorang pelaku kejahatan pedofil selesai menjalani masa kurungan, maka beri semacam tanda yang jika ada orang tua maupun anak kecil yang melihat, mereka tahu bahwa orang ini adalah mantan pelaku kejahatan pedofilia.

Sekian.




Kemarin saya mengikuti sebuah Kuliah Umum di kampus  tentang Psikologi Forensik, saya sangat bersyukur  mendapatkan pengalaman menjadi salah satu peserta Kuliah Umum yang narasumbernya adalah Dr. Reza Indragiri Amriel, ForPsych.  yang maunya di panggil Mas Reza.

Beliau adalah Master Psikologi Forensik pertama di Indonesia, cerita mengenai pengalaman masa kecil beliau ketika memutilasi belalang dan ratusan lalat, penembakan burung, serta penembakan kelelawar yang pada akhirnya membuat beliau taubat lalu oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala mas Reza di arahkan untuk sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh sangat menarik.

Ini adalah ringkasan dari apa yang telah saya dengar dan saya catat, lalu kemudian saya ketik disini, untuk berbagi apa yang telah saya dapat dari kuliah umum yang saya ikuti kemarin.  Saya juga mengharapkan adanya koreksi jika ada istilah-istilah yang mungkin salah atau jika ada hal-hal yang perlu di tambahkan.