Minggu, 22 Januari 2017

Tentang Menjalani Hidup

Andai bisa memilih hidup yang ingin dijalani, maka aku ingin jalan hidupku tetap seperti ini. Tak satupun yang ingin kubuang, entah itu pengalaman tersakit sekalipun. Karena untuk sampai disini jalan yang kutempuh begitu berliku, ratusan kenangan yang masih tersimpan rapi serta tak terhitung lagi banyaknya kenangan yang mungkin sudah kulupakan. Maka bayangkan betapa tidak kerennya aku jika aku bukan aku yang punya ratusan bahkan tak terhitung kenangan yang dilupakan itu.

Jika ada orang-orang yang benci dengan takdir hidupnya saat ini, sekuat tenaga hendak lari, serta sekeras mungkin berusaha melupakan masa lalu maka aku sebaliknya. Aku mencintai takdir hidupku, Sekuat tenaga aku berusaha menghadapi segala yang terjadi, entah itu hal manis yang membuatku tersenyum simpul atau bahkan hal menyakitkan yang membuat dadaku sesak. Aku juga tidak berusaha untuk melupakan kenangan pahit, karena penulis favoritku mengatakan ‘semakin kau berusaha melupakan, maka kenangan itu justru akan semakin kau ingat’ yang benar menurutku adalah menerimanya. Menerima dengan lapang dada segala kenangan yang menusuk, hingga suatu hari aku tak lagi merasa sakit ketika mengingatnya.

Jika ada yang mengatakan aku kekanak-kanakan maka jawabanku adalah apa salahnya berpikiran seperti anak-anak? Anak-anak selalu bersikap apa adanya, ketidaksukaan mereka katakan dengan gamblang, bukannya justru berpura-pura baik didepan orang yang mereka tidak suka, jika marah mereka akan melampiaskan, bukan memendamnya lalu menjadikannya dendam, jikapun berkelahi besok lusa mereka akan kembali baikan, bukan justru menjadi konflik yang berkepanjangan.

Orang dewasa selalu mengedepankan kerealistikkan, sesuatu yang masuk akal bagi mereka adalah bahwa dunia nyata tak seindah negeri dongeng. Tapi aku selalu ingin memandang dunia ini layaknya anak-anak, bahwa akan ada pahlawan seperti ranger pink yang datang menyelamatkan bumi ketika situasi menjadi kacau, bahwa akan ada cinta sejati yang menghampiri meski kau adalah seorang gadis miskin sekalipun. Aku selalu ingin memandang dunia sebagaimana yang bisa diwujudkan. Percaya bahwa hal-hal baik entah dari mana jalannya akan terjadi selama kita melakukan kebaikan, serta selalulah miliki keberanian.



Pernah nonton Cinderella? Pesan terakhir ibu Cinderella : "have courage and be kind, it has a power more than you know"











Minggu, 04 Desember 2016

M A N T R A

Hari ini aku mengalami hari yang bukan hanya kurang tapi sungguh sebenarnya tidak mengenakkan, tak perlu kuceritakan karena jujur saja itu aib, jika terpaksa untuk bercerita maka kurasa bukan disini tempatnya .. hehehehe

Aku memiliki sebuah kebiasaan yang mungkin juga dilakukan oleh orang lain, namun karena aku belum pernah bertemu satupun orang (secara langsung) yang melakukan hal yang sama maka aku menganggap bahwa ini adalah ritual khusus milikku sendiri.

Setelah selesai makan bakso dan yang tersisa tinggal rasa pedas maka aku akan langsung minum es jeruk, begitulah analogi yang bisa kita gunakan untuk menggambarkan kebiasaanku yang satu ini.

Ini rahasia ...

Ssssssssssstttttt ...

Aku memiliki ....


M A N T R A




Aku memiliki banyak mantra ajaib yang meski tidak menghilangkan namun dapat memperingan segala beban, entah itu cemas, sedih, takut, sakit, bahkan marah sekalipun

Ya, mantra. Tidak hanya sebuah namun ada banyak mantra untuk digunakan dalam berbagai situasi. Kalian ingin tahu mantra apa saja yang pernah kuucap? Yang baru saja aku bagikan di media sosial misalnya, itu sebuah mantra yang berbunyi “ it’s ok, no problem Anifah, just little bit forget that sometimes people who bring a plate not mean they want to eat”. Aku tak akan menjelaskan mengapa aku menulis itu jadi jangan ada yang menanyakannya !

Fokuslah pada kalimat awal “it’s oke, no problem Anifah”. Mengapa aku mengucapkan mantra seperti itu? Itu adalah sebuah mantra pembela diri, aku membela diriku sendiri dengan berkata bahwa semuanya baik-baik saja, itu bukan masalah, jika aku tidak menyakinkan diriku sendiri bahwa hal buruk yang baru saja aku alami itu bukanlah hal yang perlu aku risaukan maka sudah barang tentu aku akan galau seharian, berpikir kesana kemari, menyalahkan dri sendiri, atau bahkan menyalahkan orang lain.

Kalimat kedua “just little bit forget that sometimes people who bring  a plate not mean they want to eat” ini adalah penjelasan rasional yang kubuat untuk membela orang yang telah tanpa sadar membuatku merasa tertekan. Jika aku tidak melakukannya maka aku pasti akan sangat marah pada orang tersebut, lalu membencinya entah sampai kapan.

Jadi mantraku adalah sebuah kalimat yang aku ucapkan ketika perasaanku memburuk, entah itu memburuk karena diriku sendiri atau mungkin memburuk karena perantara orang lain. Mantraku juga terkadang kuucap ketika aku kehilangan semangat, membutuhkan motivasi, serta membutuhkan kalimat yang sesungguhnya ingin kudengar dari seseorang namun kemudian aku ucapkan sendiri kepada diriku sendiri dengan selalu menyertakan namaku untuk disebut (karena membahagiakan rasanya ketika mendengar namaku disebut)

 “ayo semangat, belajar yang rajin anifaaaaah” seperti itu misalnya. Atau ketika terbangun tengah malam lalu terdengar suara aneh maka aku pasti akan berkata “itu pasti cuma kucing anifaaaah”, atau ketika nilai UTS ku jelek maka aku akan berkata “ it’s ok anifah, namanya juga belajar, ya wajar, berikutnya harus lebih keras lagi belajarnya”, atau ketika aku kesal karena partner kerjaku tak bisa diandalkan “sabar anifaaaaah (sambil ngelus dada), percaya semua bakalan ‘kena’ pada waktunya”, atau ketika hari senin tiba “ tenang anifaaaaah, sehari itu nggak lama ko, masuk kerja jam 7 istirahat jam 10 sholat jam 13 pulang jam 15 kuliah jam 17 mata kuliah kedua jam 19 pulang jam 21, itu cepet anifaaaah, bukan seribu tahun ko”, atau ketika aku membenci seseorang maka aku akan berkkata “dia pasti punya alasan melakukannya, dan jika kau tahu alasannya kau akan memakluminya”, atau ketika aku merasa ingin membalas dendam “jangan anifaaaaah, kamu tahu kan gimana sakitnya, kamu tega orang lain ngerasain hal yang sama?”. Dan masih ada banyak lagi, 

Satu lagi, mantra terdahsyat adalah ketika kau menyertakan Allah didalamnya. Maka mantramu menjelmalah menjadi doa kala itu kamu lakukan.

Intinya mantraku adalah kalimat-kalimat yang kuucapkan supaya aku tetap berpikiran positif, tetap tegar dan tidak sedih berlebihan, tetap tersenyum dan tidak terlalu lama murung.

Jadi ada yang ingin ikut membuat mantra? Atau sudah punya satu untuk meringankan bebanmu hari ini? Apa mantramu?


Jumat, 02 Desember 2016

Kejahatan, Penyebabnya ?

Mengapa didunia ini ada begitu banyak kejahatan?

Jika dipandang dari perspektif psikologis khususnya menurut kacamata para Adlerian maka jawabannya adalah bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki inferioritas (kelemahan) yang menyebabkan munculnya daya juang untuk mencapai superioritas (keunggulan yang ingin dicapai). Berbagai bentuk superioritas yang ingin dicapai oleh seseorang dibentuk oleh adanya fiksi, yakni gambaran subjektif kita tentang sesuatu.

Contohnya gambaran subjektif si A tentang ‘Ibu’, A memiliki fiksi bahwa seorang ibu adalah ia yang memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk anak-anak supaya kelak dimasa depan mereka bisa bermanfaat untuk orang lain. Fiksi si A ini akan mengarahkan daya juang yang ia lakukan, bahkan mengarahkan perilaku si A dalam kehidupan sehari-hari. Karena fiksi si A tersebut maka si A berjuang untuk menjadi seorang wanita yang cerdas supaya ia dapat mendidik anak-anaknya dengan baik kelak dimasa depan, caranya dengan belajar sungguh-sungguh ketika kuliah dan tak lupa membekali diri dengan ilmu agama yang kelak harus diajarkan sebagai pondasi dasar kehidupan, serta berbagai hal positif lain sehingga dengan demikian si A berharap bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu kelak.

Sampai disini kita tahu bahwa fiksi kita tentang sesuatu itu penting, sangat penting. Ambil contoh ketika kita memiliki fiksi yang keliru mengenai ‘Ibu’, bahwa seorang ibu artinya adalah perempuan yang sehari-hari kerjanya hanya di dapur sumur kasur sehingga tidak perlu berpendidikan, tidak perlu memiliki banyak ilmu. Ini membahayakan,  bagaimana bisa bangsa ini akan memiliki generasi penerus yang cemerlang jika pendidik utamanya saja tidak berpendidikan? Tidak memiliki bekal pengetahuan agama bahkan yang dasar untuk ditanamkan pada diri anak-anak mereka?

Jadi fiksi adalah pandangan subjektif kita tentang sesuatu yang mengarahkan sikap dan perilaku kita akan sesuatu tersebut.


Kembali ke pertanyaan awal, mengapa didunia ini ada begitu banyak kejahatan? Jika dikaitkan dengan teori Adler maka menurut saya jawabannya adalah karena banyak dari manusia yang melakukan kejahatan itu memiliki fiksi yang keliru.


Sabtu, 05 September 2015

Sedikit Tentang Psikologi Forensik





Sabtu, 05 September 2015
Kuliah Umum
Forensik Dalam Tatanan Teori dan Praktek Keprofesian Psikologi
Oleh
Dr. Reza Indragiri Amriel, ForPsych.


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia terhadap lingkungan sekitar, sedangkan forensik ( saya ambil dari wikipedia bahasa indonesia )adalah ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakkan keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains.
Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa Psikologi Forensik adalah Psikologi Hukum.

Tidak hanya Psikologi Forensik, ada pula Akuntan Forensik, Kedokteran Gigi Forensik, Kimia Forensik, Psikiatri Forensik, Komputer Forensik dan lain-lain.

Ketika kita mempelajari Psikologi Forensik maka mau tidak mau kita harus mempelajari Hukum baik melalui bimbingan maupun belajar sendiri. Hukum bersifat teratur, taat azas, serta berdisiplin. Sedangkan Psikologi bersifat fleksibel. Itulah sebabnya akan sangat menyenangkan mempelajari Psikologi Forensik yang menggabungkan dua disiplin Ilmu yang dapat dikatakan bertolak belakang namun dalam proses penerapan hukum sangat dibutuhkan.

Ambil contoh ketika seseorang melakukan tindak pembunuhan maka keadaan Psikologi seseorang sangat menentukan jenis hukuman yang akan diberikan kepada terdakwa, disinilah seorang saksi ahli dalam hal ini seorang Psikolog Forensik memiliki peran penting.

Jika berbicara mengenai sebuah kasus tindak pidana maka yang menjadi subjek dari Psikologi Forensik adalah Pelaku, Korban, dan Penegak Hukum. Padahal dalam kenyataannya adapula kasus perdata yang memerlukan  Psikologi Forensik, misalnya dalam kasus hak asuh anak.

Contoh  :


Kasus Emon, Sukabumi. Pedofilia.



...Kata salah satu anak

“Emon maunya 20 ribu. Saya nggak mau. Terus dijanjiin 50 ribu. Jadi. Tapi baru bayar 30 ribu ...”

Korban ?

Ada transaksi dalam kasus ini, dan si anak mengetahui apa yang akan di lakukan Emon kepada dirinya setelah adanya kesepakatan, tidak ada unsur paksaan sama sekali. Jika demikian apakah si anak dapat dikatakan sebagai korban?

Dalam Undang-Undang  No 23 Tahun 2002 Pasal 81 tentang Perlindungan Anak  dinyatakan bahwa :

‘Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan , memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dengan denda paling bnyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000,00 (Enam puluh juta rupiah).’


Maka berdasarkan undang-undang diatas, si anak tetaplah korban.


...Kata Emon
“ Maunya teh dengan perempuan, tapi .......”

Pedofil?

Ketika ditanya mengapa Emon tertarik secara seksual kepada anak kecil dan bukannya kepada perempuan, Emon pun mengataka bahwa sebenarnya ia juga tertarik kepada perempuan hanya saja karena tidak ada perempuan yang mau dengan dirinya.
Jika demikian apakah Emon dapat disebut sebagai seorang Pedofil?


Pedofilia dibagi menjadi 2 jenis


1.  Pedofilia Predisposisional : Jenis pedofilia yang eksklusif, pengidap pedofilia jenis ini hanya memiliki ketertarikan seksual kepada anak-anak.

2.  Pedofilia Posisional : Pedofilia jenis ini adalah pedofilia yang terjadi karena keadaan.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Emon adalah seorang Pedofil meskipun ia masih memiliki ketertarikan kepada perempuan.



...Kata salah satu orangtua

“Anak saya tidak punya keluhan”

Kapan tanda-tanda muncul?


Jika seorang anak mengalami kekerasan seksual  maka akan muncul gejala-gejala traumatis, misalnya si anak menjadi takut ketika masuk ke kamar mandi, sering berteriak-teriak ketika tidur atau tidak mau menggunakan celana. Gejala-gejala seperti ini bisa langsung muncul setelah kejadian kekerasan tersebut terjadi, namun bisa juga gejala-gejala seperti ini akan muncul bertahun-tahun kemudian.


Inilah yang dinamakan Delay on set atau Kemunculan gejala yang tertunda.

Karena itu dalam kasus ini meskipun si korban saat ini tidak mengalami keluhan apapun ada kemungkinan di masa yang akan datang gejala ini baru akan timbul.


...Kata Masyarakat

“Pelaku harus dikebiri !”


Efektifkah ?

Tentu saja ini bukan pendapat dari seluruh masyarakat, ada pula yang berpendapat bahwa tindakan kebiri melanggar Hak Asasi Manusia. Namun jika dikatakan bahwa hal ini melanggar hak asasi manusia mari kita pikirkan kembali ! Adakah hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia?

Ambil contoh seorang murid yang dihukum untuk berdiri di depan kelas oleh gurunya karena terlambat. Anak tersebut memiliki hak untuk duduk , memiliki hak untuk mengikuti pelajaran, memiliki hak untuk tidak dipermalukan, namun karena hukuman ketiga haknya tersebut terampas.

Jadi adakah hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia? Tidak ada.

Pun jika ada yang menyatakan bahwa hukuman mati melanggar hak asasi manusia, maka itu adalah ungkapan yang utopis, karena pada kenyataannnya di dunia ini tidak ada hukum yang tidak melanggar hak asasi manusia.

Lalu hukuman seperti apa yang seharusnya diberikan kepada pelaku Pedofil?
Hukuman yang membuat jera pelakunya, hukuman yang juga dapat melindungi korban maupun calon korban.

Sejak tahun 60-an ada sekelompok orang yang merasa fokus sebuah kasus hanya pada pelaku bukan pada korban, padahal yang paling dirugikan dan paling membutuhkan perhatian khusus bukan hanya pelaku melainkan si korban pun demikian. Karena itu muncullah Victimologi yakni ilmu yang mempelajari tentang korban.

Victimologi berusaha membentuk hukum yang tidak hanya membuat jera pelaku namun juga memberikan perlindungan kepada korban dan calon korban.

Contoh cara yang dapat dilakukan misalnya setelah seorang pelaku kejahatan pedofil selesai menjalani masa kurungan, maka beri semacam tanda yang jika ada orang tua maupun anak kecil yang melihat, mereka tahu bahwa orang ini adalah mantan pelaku kejahatan pedofilia.

Sekian.




Kemarin saya mengikuti sebuah Kuliah Umum di kampus  tentang Psikologi Forensik, saya sangat bersyukur  mendapatkan pengalaman menjadi salah satu peserta Kuliah Umum yang narasumbernya adalah Dr. Reza Indragiri Amriel, ForPsych.  yang maunya di panggil Mas Reza.

Beliau adalah Master Psikologi Forensik pertama di Indonesia, cerita mengenai pengalaman masa kecil beliau ketika memutilasi belalang dan ratusan lalat, penembakan burung, serta penembakan kelelawar yang pada akhirnya membuat beliau taubat lalu oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala mas Reza di arahkan untuk sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh sangat menarik.

Ini adalah ringkasan dari apa yang telah saya dengar dan saya catat, lalu kemudian saya ketik disini, untuk berbagi apa yang telah saya dapat dari kuliah umum yang saya ikuti kemarin.  Saya juga mengharapkan adanya koreksi jika ada istilah-istilah yang mungkin salah atau jika ada hal-hal yang perlu di tambahkan.


Sabtu, 18 Juli 2015

Angin, Hujan dan Sakit Hati

Sebuah sajak
Dari Tere Liye



Kenapa ada angin?
Agar orang-orang tahu ada udara di sekitarnya.
Tiap detik kita meghirup udara, kadang lupa sedang bernapas.
Tiap detik kita berada dalam udara,lebih sering tidak menyadarinya.
Angin memberi kabar bagi para pemikir
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa di pegang.

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham ada langit di atas sana.
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh.
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering mengabaikan.
Hujan memberi kabar bagi para pujangga
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya.

Begitulah kehidupan.
Ada banyak pertanda bagi orang yang mau memikirkannya.

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli
Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia
Sungguh, tidak ada binatang yang bisa sakit hati
Apalagi batu, kayu, tanah
Tiada pernah mereka sakit hati.

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum, ada udara di sekitar kita.

Maka mendongaklah menatap ke atas, tatap bulan gemintang atau langit biru bersaput awan
Lantas mengangguk takzim ada langit di sana.

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya

Lantas tertawa kecil, atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia.




Minggu, 31 Mei 2015

Cita-Cita Yang Inkonsisten




Cita-cita saya sampai saat ini sudah berubah beberapa kali. Inkonsisten ? Ya ! Saya akui. Tapi semuanya menyesuaikan  kondisi yang saya alami sehingga  mempengaruhi perubahan cita cita saya.

Cita cita pertama saya adalah menjadi seorang dokter. Kenapa menjadi seorang dokter? Karena di kampung kelahiran saya hanya ada seorang bidan saja, tidak ada dokter. Apabila kita sakit parah maka kita harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk sampai ke dokter. Itu cukup menyulitkan mengingat transportasi dikampung masih sangat minim. Bayangkan saja, tidak ada angkutan umum, yang ada hanyalah mobil truk besar yang lewat sesekali dalam sehari, kalaupun ada mobil yang rutin datang setiap pagi, itu adalah sebuah mobil bak terbuka pengantar anak sekolah yang memang sudah disewa secara khusus untuk dipergunakan oleh anak-anak yang bersekolah ditingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, yang jaraknyapun hampir sama jauhnya dengan tempat praktik dokter.

Cita cita itu tetap bertahan sampai akhirnya saya pindah dari kampung halaman tercinta ketempat tingggal saya yang sekarang. Kenapa berubah? Itu karena disini ada banyak sekali dokter, klinik yang buka 24 jam pun bertebaran dimana mana, karena itu cita-cita saya berubah. Perubahan cita-cita itu terjadi ketika saya kelas 2 SMP. Berubah menjadi apa? Presiden. 

Ya, presiden! Saya ingin menjadi seorang presiden. Kenapa?

Saya termasuk anak yang suka menonton acara berita di televisi, kesemrawutan negara, ketidakadilan hukum, kasus korupsi yang merajalela, ditambah sistem pendidikan yang menurut saya sebagai seorang pelajar pada kala itu merasa ada yang salah.

Saya tidak suka ketika menjelang Ujian Nasional tiba saya diberikan tugas yang sangat menumpuk oleh hampir semua guru pada semua mata pelajaran. Saya tidak suka jika ada oknum guru atau petugas sekolah merokok diarea sekolah. Saya tidak suka keharusan murid membeli buku LKS yang memberatkan sebagian orangtua murid, khususnya yang kurang mampu. Dan yang paling tidak masuk diakal saya adalah kegiatan Masa Orientasi Siswa yang harus diikuti oleh semua murid baru disekolah, entah itu Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Bahkan murid Sekolah Dasar pun sekarang diharuskan mengikuti MOS.

Yang tidak saya suka dari MOS adalah isi dari acara tersebut yang membuat saya berpikir ‘dimana nilai pendidikannya??’ Ini pengalaman saya, saya beserta murid-murid baru diharuskan menggunakan kaus kaki beda warna antara kiri dan kanan, menguncir ramput dengan pita dari sedotan sebanyak tanggal lahir, menggunakan topi dari baskom. Itu baru atribut yang harus dikenakan, belum lagi ketika sampai disana kita diharuskan melakukan sesuatu yang menurut saya sama sekali tidak ada nilai pendidikannya.

Jalan jongkok, menceburkan diri kedalam sungai yang keruh dengan tambahan muka diolesi lumpur, waktu untuk sholat dihitung, kakak kelas yang bertugas sebagai panitia MOS bukan bersikap manis justru galak dan menindas, tak segan pula membentak. Jadi acara MOS itu dimana nilai pendidikannya??

Kala itu saya berpikir bahwa jika saya menjadi presiden saya akan bisa membenahi semuanya dengan mudah, dengan sangat mudah. Namun sekarang dengan kesadaran yang tinggi saya tahu itu tidak mudah, bahkan sangat tidak mudah.

Ketika menginjak bangku Sekolah Menengah Atas  saya kemudian merencanakan langkah –langkah untuk menggapai  cita-cita saya ini.

Langkah pertama tentu lulus SMA, kemudian melanjutkan ke perguruan Tinggi  Negri mengambil jurusan Hubungan Internasional, setelah lulus meniti karir menjadi seorang Duta Besar lantas setelah tercapai keinginan menjadi Duta Besar saya akan kembali ke Indonesia dan mulai terjun kedunia politik guna mencapai cita-cita menjadi presiden. Untuk menjadi presiden saya harus mempunyai tunggangan, yakni sebuah partai politik. Kalaupun tidak, maka jika kelak ada undang-undang yang tidak mengharuskan calon presiden berasal dari partai politik alias independen, maka saya akan menjadi orang pertama yang mencalonkan diri menjadi capres independen terebut. Saya bahkan telah menargetkan tahun dimana saya berharap pada tahun tersebut cita-cita saya menjadi presiden dapat terlaksana. 2035.

Tapi rencana tinggal rencana, Allah berketentuan lain .. saya tidak lolos SNMPTN, sebenarnya masih ada kesempatan untuk mengikuti SBMPTN, tapi percuma .. tak ada biaya bahkan hanya untuk membayar registrasi sebesar 250 ribu. Kalaupun dikesempatan pertama saya lulus SNMPTN maka bisa dipastikan itu tidak akan saya ambil.

Dan disinilah saya sekarang, menjadi seorang buruh pabrik dengan predikat karyawan tetap. Alhamdulillah .. Allah melancarkan jalan saya, setelah lulus SMA saya beserta beberapa teman sekelas mengikuti pelatihan kerja di sebuah lembaga pelatihan kerja milik pemerintah secara gratis selama satu setengah bulan, setelah selesai masa pelatihan saya mengirimkan beberapa surat lamaran kerja entah itu secara langsung dengan mendatangi pabrik-pabrik dikawasan indutri dekat tempat tinggal saya maupun mengirimkan lamaran kerja saya melalui kantor pos.

Dua minggu setelah mengirimkan lamaran, saya mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes di sebuah pabrik, berjalan sampai tahap wawancara , dan tepat pada tanggal 14 Agustus 2013 saya resmi bekerja di pabrik tersebut secara kontrak selama tiga bulan.

Tiga bulan berjalan lancar dengan sedikit air mata, namun saya bertahan dan mendapat seragam kerja serba putih, itu pertanda bahwa saya telah resmi diangkat menjadi karyawan tetap di pabrik tersebut.

’ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan’. Meski cita-cita saya sedikit terhambat dengan keharusan bekerja terlebih dahulu saya tetap semangat dan tetap menjaga semangat saya untuk melanjutkan pendidikan saya.

Hingga kesempatan itu tiba, saya bisa bekerja sambil kuliah dihari minggu. Saya ambil kesempatan itu . Namun hanya berjalan 2 bulan sampai pada akhirnya saya ditegur oleh atasan yang mengatakan saya diperbolehkan untuk kuliah asal jangan menganggu pekerjaan saya meskipun itu dihari minggu, karena meskipun itu hari minggu, hari dimana kita bekerja lembur dan tidak ada kewajiban untuk masuk kerja, mereka tetap membutuhkan tenaga saya.

Saya berhenti kuliah.

Akhir tahun saya mendapatkan kabar dari seorang teman sekelas ketika SMA, dia telah hijrah. Hijrah dalam segi pakaian, dan perilaku. Sungguh, sayapun ingin berpakaian syar’i, pakaian yang sesuai dengan syariat, bahkan semenjak masih SMA ketika sekilas melihat seorang kakak alumni yang berpakain syar'i, pakaian sederhana nan cantik.

Saya bulatkan tekad, tekad untuk berhijrah serta tekad untuk tetap istiqomah. Dan seperti inilah saya sekarang, berpakaian syar’i serta berusaha menjaga pergaulan dengan lawan jenis, berusaha lebih banyak mendengar siaran kajian dibanding menonton televisi, lebih banyak mengoleksi buku ilmu pengetahuan baik umum maupun agama, serta berusaha berteman dengan teman-teman yang semoga jika Allah izinkan kelak kami akan dipertemukan kembali didalam Jannah-Nya.

Akhir tahun 2013 hingga sekarang menjelang pertengahan 2015. Diwaktu yang masih sangat singkat ini, dan entah masih ada waktu lagi atau tidak dimasa depan karena hanya Allah yang mengetahui tentang hari esok, saya berharap dan telah bertekad tetap istiqomah.

Dan inilah saat dimana cita-cita saya berubah. InsyaAllah untuk yang terakhir kalinya. Saya ingin mendapat kesempatan memasuki surga Allah dengan menjadi istri yang sholihah.

Mengenal jalan indah ini, membuat saya memahami bahwa tujuan hidup ini adalah menghamba kepada Allah sebagai Dzat yang telah menciptakan saya. ‘Saya dengar dan saya taat’ itulah yang seharusnya dilakukan seorang hamba.

Cita-cita saya memang telah berubah, tapi semangat saya untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah redup, awal tahun ini saya mengikuti seleksi masuk ke sebuah Peguruan Tinggi Swasta pada gelombang pertama. Awalnya saya sedikit bingung menentukan jurusan yang akan saya ambil karena tidak ada jurusan yang benar-benar sesuai dengan  minat saya.

Setelah berkonsultasi dengan kenalan yang saya anggap bisa memberi saya nasihat dan merenung panjang setelahnya serta berdoa kepada Allah tentunya, saya mantap mengambil jurusan Psikologi.
Meski kelak setelah menjadi seorang istri saya tidak bekerja di luar dan menjadi ibu rumah tangga, maka ilmu saya akan tetap terpakai untuk merawat serta mendidik anak-anak saya kelak dimasa depan.

Saat ini adalah masa menunggu bagi saya, setelah dinyatakan lulus seleksi, sesuai rencana dari pihak kampus, OSPEK akan diadakan akhir bulan Agustus dan perkuliahan akan dimulai pada bulan September.

Ini tidak akan menjadi mudah, saya tahu itu sejak awal, mengingat saya juga bekerja hampir setiap hari, sedangkan kegiatan perkuliahan akan dilaksanan setiap hari senin sampai Jum’at. Tapi saya tidak akan menyerah, saya pasti bisa. Modal saya adalah berdoa kepada Allah dengan meluruskan niat kuliah untuk mendapatkan ilmu bukan gelar serta doa dari orangtua yang InsyaAllah ampuh.



Minggu, 12 April 2015

Kucing-Kucingku Sayang

Saat ini dirumahku ada 4 ekor kucing. 3 anakan yang baru berumur 7 minggu dan yang 1 tak lain adalah si induk yang telah berumur satu tahun lebih.

Dari atas turun kesebelah kanan : Sun Go kong (gokong), Adik Sa (Sasa), dan yang terakhir Ti Pat Kai (Patkai)

Kusi
Kusi kucing yang sedikit tidak sabaran ketika lapar, suka naik ke atas meja dapur ketika mama menggoreng ikan kesukaannya dan ketika mama sedikit saja lengah maka .. hap, lenyaplah satu ikan dari piring.

Kusi adalah kucing pemberian tetangga tanteku, awalnya aku memiliki seekor kucing kecil bernama Timmy, namun entah karena apa Timmy tiba-tiba mati. Jangan tanya aku sedih atau tidak, tentu saja aku sedih .. aku bahkan menangis sesenggukan tanpa malu meski usiaku sudah lebih dari 20 tahun.

Nah, kebetulan tetangga tanteku memiliki banyak kucing. Jadilah mamaku meminta seekor dengan harapan bisa menggantikan posisi Timmy dirumah .. dan ya, Kusi bisa menggantikan Timmy. Bahkna lebih setelah sekarang Kusi memiliki 3 ekor anak super aktif dan bertampang imut.

Sebenarnya dulu di kampung kelahiranku, aku juga memiliki seekor Kucing, aku ingat namanya Belang. Meski begitu aku sangat jarang memanggilnya Belang , lebih sering Cayang. Tapi ketika pindah ketempat tinggalku yang sekarang nenekku bilang kucing tidak boleh dibawa naik mobil, pamali, nanti mobilnya kecelakaan. Pamali yang sungguh tidak masuk akal. Tapi Yasudahlah .. kejadian itu sudah lama, hampir 9 tahun yang lalu. Entah si Cayang masih hidup atau sudah mati.


Yap, itulah sedikit cerita tentang kucing-kucing kesayanganku ..

Di lain kesempatan InsyaAllah aku akan membahas perihal kucing lagi, dan sebagai penutup berikut adalah beberapa foto-foto lucu kucing-kucingku beserta kucing kenalanku :D


Timmy


Let me introduce you to Molly :D

Kusi waktu baru lahiran :')

Please ! Please ! Jangan kasih aku ikan teri .. aku sukanya ikan cue :D

Kalimat usang yang tidak akan menjadi usang " Buku adalah jendela dunia"

Oke ! Oke ! Aku nyerah !

Namanya Bento, kucing yang doyan martabak :D

Go Kong in action 

Terkadang KUsi suka tidur terlentang kaya majikannya :D

Molly nguap karena ngantuk

Sejujurnya saya paling suka foto Molly yang ini :D

Go kong